Contohnya, di Simeulue dan Singkil distribusi hasil bumi lambat dan mahal akibat transportasi laut yang belum optimal. Infrastruktur dasar yang tertinggal membuat biaya logistik tinggi dan daya saing produk pertanian menurun.
2. Teknologi & Modal Terbatas
Pertanian Barsela masih didominasi cara tradisional skala kecil. Minimnya adopsi teknologi modern dan sulitnya akses permodalan membuat produktivitas lahan rendah. Banyak petani masih mengandalkan cangkul daripada traktor, mengakibatkan hasil panen kurang optimal.
Diversifikasi usaha tani juga minim; ketergantungan pada komoditas tunggal membuat petani rentan saat harga jatuh. Sebagai contoh, anjloknya harga TBS kelapa sawit atau gabah akan langsung memukul pendapatan karena petani tak punya alternatif sumber penghasilan.
3. Kurangnya Investasi & Hilirisasi
Investasi dari pemerintah maupun swasta di sektor agro, Barsela masih sangat terbatas. Akibatnya, industri pengolahan hasil pertanian hampir tidak ada di daerah–sawit dijual mentah keluar daerah, nilam diekspor dalam bentuk minyak atsiri tanpa pengolahan lanjutan, dan, beras hanya diproduksi sebagai gabah kering.
Minimnya pabrik atau industri hilir berarti sedikit lapangan kerja lokal tercipta. Banyak pemuda akhirnya merantau keluar daerah atau ke Malaysia demi mencari nafkah. Tingkat pengangguran tinggi dan pendapatan per kapita yang rendah menjadi ironi di tengah hamparan lahan subur yang dimiliki Barsela.




