BANDA ACEH (MA) – Di dataran tinggi Gayo, seni tradisional tidak tumbuh hanya dari panggung pertunjukan. Ia lahir dari kehidupan masyarakat, dari kampung-kampung yang berada di antara perbukitan, dari pertemuan keluarga, pesta perkawinan hingga tradisi menyambut tamu.
Salah satu warisan yang masih dikenang hingga kini adalah Tari Bines.
Tarian khas masyarakat Gayo ini memiliki keunikan tersendiri. Gerak para penari yang dilakukan secara berkelompok berpadu dengan lantunan syair yang berisi berbagai pesan, mulai dari nasihat, ungkapan perasaan hingga gambaran kehidupan masyarakat.
Bagi masyarakat Gayo, Bines bukan sekadar tontonan. Di dalamnya terdapat bagian dari identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Tari ini tumbuh dan berkembang di sejumlah kawasan pedalaman Gayo, termasuk wilayah yang secara historis berada di sekitar bekas Kerajaan Linge. Nama-nama seperti Linge, Jamat, Serna Kilang dan Pante Nangka menjadi bagian dari ruang budaya tempat kesenian tersebut berkembang.
Pada masa lalu, ketika kendaraan belum mudah ditemukan dan teknologi komunikasi belum seperti sekarang, kesenian tradisional menjadi salah satu hiburan penting masyarakat.
Pesta perkawinan, penyambutan tamu dan berbagai kegiatan adat menjadi ruang bagi Tari Bines untuk hadir di tengah masyarakat.















