Para penari bergerak secara serempak mengikuti irama. Gerakan dapat dilakukan dengan menggoyangkan pinggul sambil menepukkan kedua tangan, kemudian dilanjutkan dengan posisi tubuh yang sedikit membungkuk.
Tangan diayunkan, sementara jari-jari dimainkan mengikuti gerakan.
Pada bagian tertentu, para penari membentuk formasi melingkar sembari melantunkan syair.
Keserempakan menjadi kunci dalam pertunjukan. Satu gerakan yang dilakukan bersama-sama mampu menghasilkan keindahan yang tidak muncul dari gerakan individu.
Gerakannya juga dapat memberi kesan yang dekat dengan karakter alam Gayo. Perubahan arah, gerakan naik dan turun serta pola yang dilakukan beriringan seolah menghadirkan gambaran tentang bentang pegunungan, bukit dan lembah yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Gayo.
Tari Bines juga cukup fleksibel untuk ditampilkan di berbagai tempat. Tidak selalu harus berada di panggung besar, tarian ini dapat hadir di ruang terbuka maupun dalam berbagai kegiatan masyarakat.
Fleksibilitas tersebut menjadi salah satu modal agar Bines tetap dapat diperkenalkan di tengah perubahan zaman.
Nurlaila: Jangan Biarkan Warisan Ini Terputus
Kepala Bidang Bahasa dan Seni Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Nurlaila Hamjah, S.Sos., M.M., mengatakan Tari Bines merupakan salah satu kekayaan seni tradisional yang menggambarkan eratnya hubungan antara seni, kehidupan masyarakat dan nilai yang diwariskan secara turun-temurun.















