Nurlaila mengatakan seni tradisional juga memiliki peluang untuk berkembang melalui pariwisata dan ekonomi kreatif.
“Kesenian tradisional harus diberi ruang untuk tampil dan berkembang. Festival, sanggar, pendidikan, kegiatan pariwisata maupun pemanfaatan media digital dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan seni Aceh secara lebih luas. Kita ingin WBTb tidak hanya tercatat sebagai warisan, tetapi benar-benar menjadi budaya yang hidup di tengah masyarakat.”
Ketika Tradisi Menemukan Ruang Baru
Teknologi memberi kemungkinan baru bagi seni pertunjukan tradisional.
Pertunjukan yang dahulu hanya disaksikan oleh masyarakat di sebuah desa atau panggung tertentu kini dapat didokumentasikan dan diperkenalkan melalui video, media sosial maupun platform digital.
Namun, memperkenalkan seni tradisional ke ruang baru tidak berarti mengubahnya tanpa batas.
Ada akar budaya yang perlu dipahami.
Ada nilai yang perlu dihormati.
Dan ada pengetahuan yang harus tetap diwariskan.
Di sinilah generasi muda memiliki peran penting. Mereka dapat menjadi penari, pemusik, pelatih, dokumentator, pembuat konten, hingga penggerak ekonomi kreatif yang membawa kesenian tradisional ke ruang yang lebih luas.
Menjaga Seni, Merawat Identitas
Dua puluh tiga kesenian yang telah ditetapkan sebagai WBTb Indonesia merupakan bagian dari perjalanan panjang seni pertunjukan Aceh.















