Dari Saman hingga Seudati, Rapa’i Geleng hingga Grimpheng, Gegedem hingga Tari Ranup Lampuan, masing-masing membawa cerita dari masyarakat yang melahirkannya.
Angka 23 bukan sekadar jumlah.
Di baliknya terdapat ratusan tahun pengetahuan, kreativitas, tradisi dan ingatan kolektif yang terus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Penetapan WBTb menjadi pengingat bahwa kekayaan budaya bukan hanya sesuatu yang diwariskan oleh masa lalu.
Ia juga merupakan tanggung jawab generasi hari ini untuk memastikan warisan tersebut memiliki masa depan.
Bagi Aceh, seni pertunjukan bukan sekadar panggung dan tontonan.
Ia adalah ingatan. Ia adalah identitas. Dan melalui gerak, bunyi serta syairnya, masyarakat Aceh terus menjaga cerita leluhur agar tetap terdengar di tengah perubahan zaman. Adv















