Sarhadi menyatakan saat ini pihak nasabah/petani singkong menanggung rugi. Sebab dari 40 hektare lahan digarap cuma keluar produksi ubi 11 ton yang bisa dijual/bawa keluar.
Sementara hasil yang ditargetkan 80 ton per hektare dengan harga perkiraan Rp1.000/kg meleset. Seharusnya dari lahan 40 Ha tersebut estimasinya mampu keluar 320 ton juga diluar ekspektasi pihak bank.
“Artinya ini tidak sesuai dengan harapan. Ini kan, petani pasti tau ubi itu berat di ongkos, ditanam pula di areal 200 (hutan) sana. Saya tau lokasi itu jauh. Nah, ada egak perhitungan baik dari pihak kelompok, nasabah dan pihak bank terhadap biaya pengeluaran itu, sehingga pihak bank mau kerja sama” ujar Sarhadi.
Dijelaskannya tidak mudah mengeluarkan komoditi pertanian dari areal 200/ pedalaman Bandar Pusaka tersebut. Bahkan sekarang dia menaksir biaya jasa angkut mencapai Rp200-500/kg, seperti ongkos kelapa sawit dari kawasan itu sampai ke Pulau Tiga Rp250/kg. Apalagi dibawa ke Medan.
“Saya sebenarnya agak heran juga kepada pihak bank memberikan uang saya merasa ini jebakan ke bapak-bapak ini (petani) terus terang saja. Karena apa, karena hitungan tidak masuk akal. Terus muncul pertanyaan baru lagi sampai berapa lama program ini bisa berasil sehingga uang itu bisa dikembalikan petani,” ketus Sarhadi.




