‘Upeti’ Kredit Ubi Kayu M Syah Sampai ke OJK

Kru LembAHtari dan Reclaseering foto bersama di kantor OJK Aceh

Ketua Komisi II DPRK Aceh Tamiang Muhammad Irwan meminta kepada pihak Bank Aceh dapat menunjukkan bukti alih rekening dasar hukumnya apa dan penyertaan modal yang dianggap janggal.

Kemudian pihak BAS dinilai kurang paham dengan petani intensif dengan petani pemula. Jangan samakan lahan datar dengan lahan berbukit. Seharusnya Bank Aceh ambil rekomendasi rujukannya dari BPS tentang hasil ubinan pemerintah rata-rata per satu daerah.

BACA JUGA...  Tri Astuti : Disabilitas Bukan Kaum Marginal

“Kalau cakap-cakap perkiraan target berapa ton saya pun bisa. Kemudian dipelajari transportasi, berapa lama butuh waktu angkat buah dari lokasi ke pabrik. Ini kalau saya lihat ini kurang, kurang survei kurang pengawasan,” tegas M Irwan.

Pria yang akrab disapa Wan Tanindo mengaku tidak habis pikir tanam singkong diatas gunung. Padahal lahan datar sangat mempengaruhi produksi. Kemudian dia juga menyoroti sumber bibit ubi kayu dipastikan tidak ada laporan ke Balai Benih. Padahal semua atas nama bibit itu harus dilaporkan ke Balai.

BACA JUGA...  Masjid Kuno di Pidie Jaya, Saksi Sejarah Kejayaan Islam di Aceh

“Kelompok tani salah, dari Bank Aceh juga salah petani ubi pemula diberi modal besar-besar,” sebut Wan Tanindo.

Proses Tanam Sudah Selesai

Sementara itu pimpinan BAS Cabang Kuala Simpang Muhammad Syah menceritakan, sebenarnya waktu itu proses tanam sudah selesai tinggal panen. Kendala panen waktu itu adalah jalan rusak becek, sehingga untuk panen petani merasa agak berat. Kemudian pihak Bank Aceh berinisiatif membeli armada mobil taft badak untuk mobilisasi hasil panen keluar.