“Semua petani mengatakan tidak semua lahan 40 hektare itu ditanam singkong, karena berbukit dan ada parit,” kata anggota Komisi II DPRK Aceh Tamiang, Sarhadi dalam rapat dengar pendapat (RDP) yang digelar, Rabu, 15 Februari 2023 lalu.
RDP petani singkong ini dipimpin Ketua Komisi II Muhammad Irwan dihadiri Wakil Ketua DPRK Muhammad Nur serta menghadirkan pimpinan Bank Aceh Cabang Kuala Simpang Muhammad Syah bersama jajaran. Kemudian ketua kelompok tani Mekar Kembali, Wagirun alias Lilik, sekretaris dan bendahara serta para petani singkong.
Sarhadi mempertanyakan sampai sejauh mana analisa dan pengawasan Bank Aceh di lapangan sampai program ini berhasil. Karena ada juga sebagian lahan yang tidak bisa ditanami.
Ketika ada hamparan lahan yang kosong tentu akan mempengaruhi produksi. Ia menduga Bank Aceh hanya menerima laporan dari kelompok tani, bukan dari petugas bank.
Bank Aceh, sepertinya tidak mengetahui secara pasti berapa luas lahan yang digarap dan jumlah batang ubi yang ditanam per hektare.
“Kalau kata petani dalam satu hektare ada 10 ribu batang, Bank Aceh juga harus tau berapa puluh ribu batang ubi yang ditanam seluruhnya. Kalau hanya tinggal di kali per hektare itu kan ‘kerja meja’ jelas kan, berarti hasil pengawasannya saya meragukan,” ucap politisi Gerindra ini.




