SAYA BERSUMPAH PASTI ADA DI SINI!

Foto Ilustrasi

24 Jam Pertama; Saat Semua Sistem Tumbang.

LISTRIK PADAM. Tower komunikasi roboh. Sinyal hilang. Hanya suara air yang bergemuruh, dan suara warga yang saling memanggil dalam gelap.

Dalam situasi seperti itu, pejabat biasanya menunggu laporan, menunggu briefing, menunggu arahan. Tetapi hari itu, berbeda.

Sekira pukul 04.00 dini hari, menurut kesaksian Bayu. Kepala Pelaksana (Kalaks) BPBD, Bupati Armia sudah berada di halaman belakang kantor BPBD Aceh Tamiang, ditemani beberapa staf dan dua boat motor.

BACA JUGA...  ‎Ratusan Ribu Korban Banjir di Aceh Utara Akan Mengungsi Dalam Waktu Lama

“Beliau bilang; Tidak ada yang tidur. Kita mulai sekarang.”

Demikian pernyataan salah satu anggota BPBD yang ikut turun.

Dini hari itu, tanpa sorotan kamera, tanpa protokoler, Bupati mulai melakukan penyisiran awal untuk melihat sejauh mana kerusakan.

Ia tidak hanya mengambil laporan—ia menyaksikan langsung warga menjerit ketika rumah mereka mulai oleng.

BACA JUGA...  Bur Ni Telong Berstatus Siaga

Bukan hal yang biasa bagi seorang pejabat daerah, apalagi berpangkat jenderal purnawirawan.

Investigasi Lapangan; Mengapa Sekerak Terputus?.

KETIKA BANJIR terjadi, Kecamatan Sekerak menjadi simbol paling kelam dari ketertutupan.

Tidak ada akses darat. Jalur lintas rusak dan terputus oleh runtuhan. Hutan gambut menjadi kolam raksasa. Warga terjebak.