Wah, Kocek panjang umur, baru dibicarakan sudah nongol. “manye kabhe nie (apa kabar ni),” dijawab Kocek “biase caghie duik dolu nie (biasalah cari uang dulu ni),”. “Siplah kalau begiye, duduk hini (Siplah kalau begitu, duduk sini),”. Kocek duduk mengambil tempat.
“Ade ape ne, ceghitelah. Biagr ambe dengagr,” Sergah Kocek. “Ini bang Kocek, soal Jembatan kembar dan rekayasa jalan kota Kualasimpang,”.
Langsung tanpa ba…bi…bu, Kocek nyambung. Terkait masalah rekayasa jalan yang menelan biaya Rp6 miliar lebih tersebut, bukan menambah cantik dan kota tertata, sebaliknya semakin semrawut.
Sebab, banyak sekali mobil dan sepeda motor salah jalur dalam berlalu lintas. Kenapa begitu ya?, benar saja, sebab bangsa Belanda membuat jalur tersebut mudah bukan mempersulit.
Dengan menelan biaya yang lumayan besar, tetapi plank rambu-rambu penunjuk jalan saja masih sangat terasa kurang.
Kocek mencontohkan, jalan Mayjend Sutoyo [lintas negara pinggir Sungai]. Banyak sekali tamu berkeliling kota, saat masuk jalan Veteran [Depan Kantor Koramil] seharusnya jika terus tembus ke Pemadam harusnya belok ke kanan, bukan malah belok ke kiri, yang berlawanan arah.
Dilintasan ini kerap sekali terjadi salah arah jalan. “Menurut Ambe, rekayasa jalan Kota Kualasimpang bukan semakin rapi, tetapi menambah kesemrawutan dan tidak menambah rapi berlalu lintas jakan perkotaan,” jelas Kocek.




