Menurut Kocek, jembatan kembar Kota Kualasimpang, akan menjadi proyek mubajir, sebab titik temu jalan di ujung jembatan hanya satu ruas jalannya.
Kalau mau mengatasi kemacetan, tepatnya diujung jembatan arah kota itu harus jalan dua jalur, atau sepanjang jalan Ir. H. Juanda hingga ke tekongan Indomaret dibuat dua jalur. Sebagai efek domino mengurangi kemacetan.
Jika itu tidak dilakukan, sama saja, jembatan kembar hanya sebagai proyek mubajir membuang uang rakyat tanpa hasil.
Padahal yang digadangkan, untuk membangun jembatan kembar itu, menghabiskan biaya sebesar Rp90 miliar rupiah diplot dari Anggaran Pembangunan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2022.
Angka yang sangat pantastis, untuk membangun jembatan kembar, namun apakah hasilnya nanti sesuai?, dengan asabat?.
Pun begitu, kita harus lihat, analisa, kajian dan DED-nya seperti apa. Masyarakat awam saja bisa menilai kok ending-nya.
Seharusnya, jika benar-benar ingin mengatasi kemacetan untuk jangka waktu 50 tahun kedepan. Pemerintah Aceh Tamiang hari ini bukan berpikir membangun jembatan kembar.
Tetapi membangun jembatan lain di wilayah Suka Jadi – Pemadam Kebakaran [Jembatan alternatif], dikhususkan untuk Truk dan Bus Penumpang.
Untuk mobil pribadi tetap menggunakan jalur lama. Ini baru bisa mengurangi dampak kemacetan, sebab mobil pribadi dan truk sudah terpisah jalurnya.




