Pendapatan penduduk kota Kualasimpang didapat dari Pegawai Negeri Sipil (PNS), Petani, Perkebunan dan Berniaga serta sebagian bekerja pada perusahaan pertambangan dan mineral.
Kehidupan masyarakat dimasa tahun 70-an adalah masa keemasan masyarakat Kota Kualasimpang. Bagaimana tidak, banyak barang-barang sandang didatangkan dari luar negeri [Freeport Sabang].
Sampai masyarakat diluar kota Kualasimpang [kabupaten Aceh Tamiang sekarang] berbelanja di kota ini, sebab barang yang ditawarkan berkualitas dan branded. Seperti masyarakat Stabat, Tanjung Pura, Berandan dan Besitang di Kabupaten Langkat.
Kala itu tatanan kota begitu afik, lalulintasnya baik [tertata dan teratur], riol pembuangan air juga baik, sebab Belanda sudah memikirkan untuk jangka waktu 50 tahun kedepan.
Pada dasarnya, konsep dari perencanaan pembangunan yang sempurna adalah Detail Engineering Design (DED), apalagi sebuah kabupaten pasti dilengkapi dengan Tata Ruang dan atau Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) atau Kota.
Lalu bagaimana dengan tata ruang kota Kualasimpang yang saat ini semakin semrawut?. Secara objektif dan logika. Editorial redaksi mediaaceh.co.id mencoba mengupas terkait Rakayasa Jalan dan Wacana Pembangunan Jembatan Kembar Kota Kualasimpang.




