Yang di herankan Kocek, anggaran sebesar Rp6 miliar rupiah lebih tidak sebanding dengan hasilnya. Malah menimbulkan tanda tanya. Dana Rp6 miliar rupiah digunakan untuk kegiatan apa saja?.
Logikanya, rakayasa jalan seyogianya-kan untuk menata lalu lintas menjadi rapi dan tertib, agar kemacetan tidak terjadi. Sebaliknya yang teejadi semakin semrawut dan macet, ditiap-tiap persimpangan.
Agaknya, pemerintah Aceh Tamiang sebelum rekayasa dilakukan tidak mengkaji terlebih dahulu, dampak dan efeknya rekayasa jalan tersebut.
Gujuk-gujuk sosialisasi beberapa minggu dan langsung eksen. Sama seperti membuang anggaran sia-sia hasil nol. Atau dan atau? Ada indikasi apa ya?. Atut ahhh.
Kocek mengelus dada. Dia sangat kecewa dengan pemerintahan hari ini, “Maaf beuh, ambee te nyebut namenye, kelien plieng tau, sape (maaf ya,saya tidak sebut namanya, kalian semua tau, siapa),” kata Kocek.
Sebab Rakayasa Jalan kota Kualasimpang bukan makin tertata sebaliknya menambah kemacetan, apalagi dengan anggaran Rp6 miliar lebih, plank penunjuk arah jalan saja masih sangat kurang.
“Coube-lah nak buek program iye nyang benagh-benagh kimprehensip tide asal buek. (Cobalah mau buat program itu benar-benar kimpregensip tidak asal buat). Pada akhirnya semua pemakai jalan berkomentar miring sebab tidak mengatasi kemacetan, malah menimbulkan kemacetan,” Jelasnya.




