Oleh: Dr. Lismijar, MA
Saat ini, warga Aceh bersiap menyambut satu momen penting dalam demokrasi lokal: Pemilihan Keuchik Langsung (Pilchiksung).
Di berbagai gampong, geliat demokrasi mulai terasa. Nama-nama calon keuchik mulai bermunculan. Namun, ada satu pertanyaan besar yang perlu kita renungkan bersama: di mana peran anak muda dalam kontestasi ini?
Di tengah situasi itu, kita bisa merefleksi dan belajar banyak dari sosok Zohran Mamdani, seorang politisi muda Muslim dari New York City yang kini menjadi simbol kebangkitan politik rakyat biasa. Mamdani bukan anak pejabat, bukan keturunan elite politik. Ia lahir dari keluarga imigran, tumbuh besar di lingkungan kelas pekerja, dan memulai perjuangannya dari gerakan akar rumput.
Dari New York ke Aceh:
Narasi Kepemimpinan dari Pinggiran
Kemenangan Mamdani dalam dunia politik Amerika Serikat adalah gambaran nyata bahwa anak muda dari kelompok pinggiran bisa tampil memimpin. Ia membawa suara minoritas, kaum tertindas, dan kelas pekerja ke ruang-ruang pengambilan keputusan.
Hal itu sangat relevan dengan kondisi banyak desa di Aceh saat ini, di mana anak muda masih sering dipandang sebelah mata dalam politik gampong. Dominasi figur-figur lama dan minimnya regenerasi kepemimpinan di tingkat desa menjadi tantangan nyata.




