Motif tersebut tidak sekadar menyalin bentuk bangunan. Ia diolah kembali menjadi komposisi dekoratif yang dapat diterapkan pada berbagai benda, termasuk perhiasan yang berukuran kecil.
Salah satu nama yang kerap disebut dalam sejarah perkembangan motif ini adalah Mahmud Ibrahim atau Utoh Mud, seorang perajin emas asal Blang Oi, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh.
Pada dekade 1920-an, Utoh Mud disebut mengembangkan desain perhiasan yang kemudian dikenal sebagai Pinto Aceh. Karyanya bahkan meraih penghargaan dalam sebuah kegiatan pasar malam yang diselenggarakan pemerintah kolonial Belanda di kawasan Blang Padang, Kutaraja.
Dari tangan seorang perajin emas, sebuah desain kemudian berkembang menjadi motif yang digunakan secara luas dan diwariskan lintas generasi.
Kepala Bidang Bahasa dan Seni Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Nurlaila Hamjah, S.Sos., M.M., mengatakan perjalanan Pinto Aceh memperlihatkan kemampuan seniman dan perajin Aceh dalam mengolah unsur sejarah menjadi karya seni yang memiliki karakter kuat.
“Pinto Aceh memperlihatkan bagaimana sebuah inspirasi dari lingkungan dan sejarah Aceh dapat diterjemahkan menjadi karya seni. Nilai seninya tidak hanya terletak pada keindahan motif, tetapi juga pada keterampilan perajin dalam mengolah bentuk, detail dan komposisi sehingga menjadi karya yang memiliki identitas.”
Keindahan yang Lahir dari Ketelitian
Pinto Aceh memiliki hubungan erat dengan dunia seni kriya. Pada perhiasan, misalnya, motif tersebut membutuhkan tingkat ketelitian yang tinggi.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya















