Museum Islam Samudera Pasai: Menjaga Sejarah Kerajaan Islam Pertama di Indonesia

Minggu, 13 Oktober 2024

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

ACEH UTARA (MA) Museum Islam Samudera Pasai, yang terletak di Kabupaten Aceh Utara, merupakan museum khusus yang dibangun secara bertahap mulai tahun 2011 hingga 2016. Berdiri megah di atas lahan seluas 500 m², museum ini terdiri dari dua lantai dengan desain arsitektur yang menggambarkan kemegahan istana kerajaan Samudera Pasai.

BACA JUGA...  Kopi Nira, Inovasi Rasa dari Perpaduan Kopi Gayo dan Nira Aren yang Wajib Dicoba di Aceh

Museum ini tak hanya menjadi pusat informasi sejarah, tetapi juga menjadi salah satu objek wisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan, baik lokal maupun dari luar daerah. Pengunjung yang datang tidak hanya ingin menikmati keindahan arsitektur bangunan, tetapi juga mempelajari sejarah yang kaya dari kerajaan Islam pertama di Indonesia, yaitu Kerajaan Samudera Pasai.

BACA JUGA...  Pantai Ujong Batee Puteh: Surga Tersembunyi di Aceh Barat dengan Pesona Unik

Kerajaan Samudera Pasai sendiri didirikan pada tahun 1267 Masehi oleh Meurah Silu, yang kemudian dikenal dengan nama Sultan Malik Al-Saleh setelah memeluk Islam. Berbagai peninggalan kerajaan ini kini tersimpan dengan baik di museum, termasuk artefak-artefak penting yang menjadi saksi bisu kejayaan kerajaan tersebut.

Salah satu bukti arkeologis keberadaan kerajaan ini adalah makam para raja Pasai yang ditemukan di Kampung Geudong, Aceh Utara. Makam ini terletak di dekat reruntuhan pusat kerajaan Samudera Pasai di Desa Beuringin, Kecamatan Samudera, sekitar 17 kilometer sebelah timur Lhokseumawe. Makam Sultan Malik Al-Saleh, pendiri dan raja pertama kerajaan ini, menjadi salah satu daya tarik utama bagi para pengunjung.

BACA JUGA...  Kadisbudpar Aceh: Yuk Berwisata Sejarah ke Makam Teuku Umar

Berita Terkait

23 Warisan Budaya Aceh di Tingkat Nasional, Kekayaan yang Tak Boleh Hilang
Seudati: Seni Gerak, Syair, dan Kekompakan yang Tak Lekang Zaman
Seni di Balik Kupiah Meukeutop, dari Busana Adat hingga Simbol Aceh
Pinto Aceh: Sebuah Motif, Sebuah Karya, Sebuah Identitas
Rencong: Ketika Sebilah Senjata Menjadi Karya Seni dan Identitas Aceh
Si Dalupa, Teater Bertopeng Aceh Barat yang Tetap Hidup di Tengah Zaman
Menjaga Gegedem Tetap Bertalu, Merawat Ingatan Budaya Tanah Gayo
Rapai Geurimpheng, Seni Tradisi Aceh yang Menyatukan Bunyi, Gerak dan Syair

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 22:17 WIB

23 Warisan Budaya Aceh di Tingkat Nasional, Kekayaan yang Tak Boleh Hilang

Minggu, 30 Agustus 2026 - 16:06 WIB

Seudati: Seni Gerak, Syair, dan Kekompakan yang Tak Lekang Zaman

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 23:01 WIB

Seni di Balik Kupiah Meukeutop, dari Busana Adat hingga Simbol Aceh

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 14:57 WIB

Pinto Aceh: Sebuah Motif, Sebuah Karya, Sebuah Identitas

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 00:53 WIB

Rencong: Ketika Sebilah Senjata Menjadi Karya Seni dan Identitas Aceh

Berita Terbaru

FEATURE

Media dan Hulu Migas, Perkuat Pemahaman Energi

Sabtu, 12 Sep 2026 - 19:56 WIB

Anggota DPRK Asel Mistan Aulia (kanan) meninjau Irigasi Paya Dapur Kluet Timur bersama tim BPBD setempat, Jumat, (11/9/2026).(Poto/media eh.co.id/istimewa).

PEMERINTAHAN

Irigasi Tertutup Lumpur, 1.900 Hektare Sawah Terancam 

Sabtu, 12 Sep 2026 - 19:50 WIB

RAGAM BERITA

Bursa Ketum PWI Sumut 2026 Memanas

Sabtu, 12 Sep 2026 - 19:42 WIB

OPINI

Dari Ruang Curhat

Sabtu, 12 Sep 2026 - 09:38 WIB

Bupati Aceh Utara H. Ismail A Jalil, SE., MM (Ayah Wa).

PEMERINTAHAN

Ayah Wa: Mengakar pada Sejarah, Bertumbuh untuk Masa Depan

Jumat, 11 Sep 2026 - 23:52 WIB