“Kami sangat menderita puluhan tahun lamanya. Jika saya ingat sejak tahun 1968 kami di sini tak tahu dunia luar seperti apa. Untuk mendapatkan sesuatu, saat saya kecil dulu, harus menempuh perjalanan kurang lebih 7 jam lamanya. Membuat kami terpuruk dan sedikit putus asa,” kenang Datok Penghulu [Kepala Desa] Baling Karang Jhony S. Kamis, 26 Februari 2025 dari Baling Karang.
KUALASIMPANG | mediaaceh.co.id. id – Kampung [Desa] Baling Karang namanya, letaknya di Kecamatan Sekerak Kabupaten Aceh Tamiang. Untuk bisa sampai ke Kampung itu harus menempuh perjalanan sejauh 45 kilometer arah Barat ibukota kabupaten [Kota Kualasimpang].
Kondisi jalannya sangat baik [beraspal] dengan vegetasi perkebunan Kelapa Sawit rakyat dan perusahaan besar pemilik Hak Guna Usaha (HGU), serta sungai yang sesekali menyembul menemani perjalanan.

Panorama perbukitan cekung nan indah, menambah decak kagum kebesaran Allah SWT. Baigronnya gunung berbatuan Sangka Pane; membujur dari Selatan menuju Barat, berada di antara Aceh Tamiang dengan Aceh Timur.
Baling Karang, baru saja meretas diri dari keterisoliran. Sejak tahun 1968 kampung ini benar benar sulit untuk di terabas [didatangi]. Mengingat kondisi akses, tanah berlumpur dipenuhi lubang lubang [bekas pijakan ban truk bermuatan puluhan ton kelapa sawit] berisi air hujan.




