‘Meretas’ Keterisoliran ‘Baling Karang’ Bermodal Jembatan Gantung

Jembatan Gantung bantuan Pokir H Ilham Pangestu DPR RI partai Golkar.

Aleh aleh, masyarakat Baling Karang lebih gandung menggunakan akomoda air, meski terbilang lama. Namun tidak berisiko jatuh.

Akomoda air dibagi dua sesi, setiap hari boat berangkat ke kota kabupaten [Kualasimpang] yang membawa penumpang untuk berbelanja bisa dua atau tiga boat.

Tiga boat yang naik ke Baling karang membawa belanjaan dagang kebutuhan masyarakat di sana bersama penumpangnya. Begitu setiap harinya aktifitas masyarakat di Baling Karang.

BACA JUGA...  Menjemput Cahaya di Tepi Sungai Seruway

Transportasi air menjadi primadona saat itu. Dari kampung Baling Karang menuju kota mereka bawa komoditi yang akan di jual.

Seperti, Pinang, Padi, Kakao, Kopi, Kelapa Sawit, Jeruk Lemon dan Karet serta komoditi lainnya. Itu di jalani selama puluhan tahun.

Pahit getirnya kehidupan di kampung terisolir Baling Karang tak menciutkan nyali mereka untuk maju dan berkembang. Hari ini, itu mereka buktikan menolak keterbelakangan di semua sektor.

BACA JUGA...  Sentuhan Hangat Pemimpin di Ujung Negeri Baling Karang
Sebelum ada jembatan Gantung.

“Kami sangat menderita puluhan tahun lamanya. Jika saya ingat sejak tahun 1968 kami di sini tak tahu dunia luar seperti apa. Untuk mendapatkan sesuatu, saat saya kecil dulu, harus menempuh perjalanan kurang lebih 7 jam lamanya. Membuat kami terpuruk dan sedikit putus asa,” kenang Datok Penghulu [Kepala Desa] Baling Karang Jhony S. Kamis, 26 Februari 2025 dari Baling Karang.