Menjemput Cahaya di Tepi Sungai Seruway

Menjemput Cahaya di Tepi Sungai Seruway. [Foto Dok | mediaaceh.co.id | ChatGPT].

“Guru-guru di pelosok bukan hanya mengajar, mereka menjaga cahaya peradaban agar tak padam. Di tengah banjir, lumpur, dan keterbatasan, mereka tetap menyalakan masa depan. Tugas kami adalah memastikan cahaya itu tak pernah padam.”

[Drs. Sepriyanto. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Tamiang].

POTRET PERJUANGAN Ainul Mardiah, Guru TK dari Tanah Banjir, dan Suara Empati Dinas Pendidikan Aceh Tamiang

BACA JUGA...  SMKN Taman Fajar Aceh Timur Rebut Juara

Pagi itu di Seruway, kabut masih menggantung di atas sawah. Udara beraroma lumpur basah. Dari kejauhan, terdengar suara riuh anak-anak yang berlari di halaman sekolah yang sebagian tanahnya baru mengering setelah seminggu diguyur hujan.

Di antara mereka, seorang perempuan berkerudung cokelat muda tengah mengatur barisan kecil itu dengan sabar [dialah Ainul Mardiah, guru di TK Negeri Pembina Seruway, Aceh Tamiang].

BACA JUGA...  Langsa Barat Laksanakan Musrenbang Kecamatan

Sekolah ini berdiri di dataran rendah, diapit hamparan sawah dan aliran sungai yang setia menunggu musim hujan untuk kembali meluap.

Di sinilah Ainul menjalani kesehariannya; mengajar, membersihkan kelas yang becek, menenangkan anak-anak yang ketakutan saat lintah mulai muncul dari tanah basah, dan tetap tersenyum di tengah genangan.

“Kalau hujan deras semalaman, besoknya kami sudah siap dengan sapu dan ember, bukan langsung buka buku,” katanya sambil tersenyum getir.

Tapi senyum itu tak pernah padam, sebab baginya, sekolah bukan hanya tempat belajar, melainkan tempat bertahan hidup untuk masa depan anak-anak di pelosok sungai ini.