Menjemput Cahaya di Tepi Sungai Seruway

Menjemput Cahaya di Tepi Sungai Seruway. [Foto Dok | mediaaceh.co.id | ChatGPT].

Empatik, dengan turun langsung ke sekolah-sekolah terpencil, berdialog dengan guru, dan memberi pengakuan terhadap dedikasi mereka.

Responsif, melalui koordinasi lintas dinas untuk perbaikan akses dan infrastruktur pendidikan di daerah rawan banjir.

Transformatif, dengan menjadikan inovasi seperti POSWAN sebagai model pembelajaran daerah, bahkan menginisiasi pelatihan replikasi di TK lain di Aceh Tamiang.

BACA JUGA...  Kunjungi Media Aceh, Anggota DPD RI Harap Masyarakat Pers Bela Rakyat

“Pendidikan di daerah rawan seperti ini membutuhkan administrasi berbasis empati,” katanya. “Bukan hanya angka-angka, tapi juga peluh, lumpur, dan air mata perjuangan.”

Menjadi Lentera dari Sungai Tamiang.

Kini, setiap kali hujan datang, Ainul tak lagi cemas berlebihan. Ia tahu, masih banyak yang peduli.

Meski genangan bisa menenggelamkan halaman sekolah, semangatnya tidak pernah tenggelam.

BACA JUGA...  Sebaiknya Tidak Negatif ‘Thinking

Dari sebuah ruang kecil di tepi sungai, seorang guru bernama Ainul Mardiah sedang menulis babak baru pendidikan Aceh Tamiang; Bahwa kemajuan tidak harus menunggu keringnya tanah, tapi bisa tumbuh dari ketulusan dan daya juang.

Bagi Drs. Sepriyanto, kisah Ainul Mardiah adalah cermin untuk membangun arah kebijakan baru;

Bahwa pendidikan sejati tidak hanya diukur dari fasilitas, tapi dari keberanian untuk terus menyalakan cahaya, bahkan di tengah banjir.

BACA JUGA...  Ratusan Siswa Madrasah Baru Jalani Masa Ta'aruf Gabungan

“Kami tidak menuntut banyak,” kata Ainul lirih, “hanya ingin anak-anak kami punya masa depan yang kering dari ketertinggalan.”

Di tepi sungai itu, suara tawa anak-anak kembali terdengar. Ainul pun tersenyum, menatap langit mendung yang pelan-pelan merekah.