Menjemput Cahaya di Tepi Sungai Seruway

Menjemput Cahaya di Tepi Sungai Seruway. [Foto Dok | mediaaceh.co.id | ChatGPT].

Metode ini sederhana, tapi visioner. Anak-anak diajak memecahkan masalah lewat animasi dan kegiatan interaktif di Canva.

Mereka mewarnai gambar yang diunduh dari internet, lalu merangkai cerita digital dengan bantuan infokus yang dihubungkan ke laptop sekolah.

“Anak-anak jadi senang belajar,” katanya. “Mereka belajar berpikir kritis tanpa merasa digurui.”

POSWAN melatih enam aspek perkembangan anak sekaligus; motorik, sosial, kognitif, bahasa, hingga emosi.

BACA JUGA...  Delapan Santriwan dan Santriwati Madin Takmiliyah Bener Meriah Ikut PORSADIN Tingkat Nasional 

Dalam ruang kelas yang kadang lembap dan berdinding kayu, Ainul menyalakan dunia digital untuk anak-anak sungai.

Sebuah paradoks indah: teknologi yang biasanya identik dengan kota besar, justru tumbuh di tengah genangan air dan suara katak sawah.

Sikap Empatik dan Langkah Dinas.

Cerita Ainul Mardiah sampai juga ke meja Drs. Sepriyanto, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Tamiang. Bagi Sepriyanto, keluhan Ainul bukan sekadar laporan faktual [melainkan suara nurani dari ruang-ruang kelas yang tak terlihat kamera].

BACA JUGA...  Syukuran HUT Lantas Bhayangkara ke - 66, Sat Lantas Polres Lhokseumawe Santuni Yatim Piatu

“Guru seperti Ibu Ainul bukan hanya pengajar, mereka adalah pejuang peradaban,” ujarnya. “Kita harus hadir bersama mereka, bukan hanya dalam rapat, tapi di lokasi perjuangan mereka.”

Sepriyanto menegaskan tiga langkah moral dan kebijakan yakni; Empatik, Responsif, dan Transformatif.