Jalan yang Tak Selalu Kering.
Menuju Seruway bukan perkara mudah. Transportasi umum hanya lewat beberapa kali dalam sehari.
Sebelum jembatan Bendahara–Seruway dibangun, Ainul harus menyeberang sungai dengan perahu getek bermesin kecil.
“Kadang ombaknya tinggi, kadang hujan datang tiba-tiba,” kenangnya. “Tapi kalau berhenti, anak-anak tidak belajar.”
Kini jembatan baru memang telah mempermudah akses. Namun, masalah belum selesai.
Tiap kali sungai meluap, air tetap mencari jalannya sendiri, menembus halaman sekolah, merendam mainan anak-anak, bahkan meja belajar. Musim hujan di Seruway bukan sekadar peristiwa alam [ia adalah ritual tahunan ketangguhan].
Namun Ainul tidak sendiri. Setiap kali banjir datang, masyarakat sekitar ikut turun tangan. Para wali murid, anggota Koramil, dan bahkan anak-anak remaja desa bahu-membahu mengangkat meja, menjemur buku, membersihkan lantai. “Gotong royong itu kekuatan kami,” ujarnya. “Sekolah ini mungkin kecil, tapi cintanya besar.”
Inovasi dari Tanah Banjir.
Di tengah keterbatasan, Ainul Mardiah justru menyalakan obor kecil perubahan. Ia memperkenalkan POSWAN [Problem Solving with Animated], sebuah metode pembelajaran berbasis digital dan kecerdasan buatan (AI) yang disesuaikan dengan dunia anak usia dini.




