Jika musim kemarau kita bisa sampai ke Baling Karang kisaran 3 – 4 jam perjalanan dengan menggunakan truk yang memakai dobel gardan.
Sebaliknya jika musim penghujan tiba, untuk dapat menjangkau kampung itu bisa 12 jam perjalanan, karena beratnya medan yang dilalui berlumpur, berlubang dan sangat licin.
Bahkan tak jarang, masyarakat harus menginap [bermalam] di jalan, karena kelelahan berjibaku dengan lumpur. Baru keesokan subuhnya mereka melanjutkan kembali perjalanannya menuju Baling Karang.

Tahun 90-an sampai 2000-an untuk memasuki kampung Baling Karang ada dua cara, dengan menggunakan akomoda transportasi air dan penyeberangan menggunakan Getek [Perahu besi gandeng bermesin].
Jika dengan akomoda air [Boat] bisa menempuh perjalanan 6–7 jam perjalanan menelusuri terusan Daerah Aliran Sungai (DAS) Tamiang, dengan panorama hutan gegas dan hutan lebat di kiri kanan sungai.
Sedangkan jalur darat dapat di tempuh dengan sepeda motor dan mobil dobel gardan. Risikonya jika musim hujan berjibaku dengan Lumpur dan tanah licin. Dan musim kemarau masyarakat bergumul dengan debu lumpur yang telah mengering.




