8.190 HUNTARA UNTUK RAKYAT; ANTARA PROGRES, TEKANAN WAKTU, DAN TUNTUTAN AKUNTABILITAS

[Ilustrasi Digital Art/mediaaceh.co.id/Awelatam].

“2.100 unit ini bukan sekadar statistik. Ini adalah rumah sementara bagi rakyat kami yang kehilangan segalanya. Saya akan terus mengawal, mengawasi, dan menyuarakan percepatan sampai seluruh unit berdiri dan bisa ditempati.”

[Irjen Pol (P) Drs. Armia Pahmi, MH].

“Huntara adalah jembatan, bukan tujuan akhir. Target kami adalah Huntap yang aman dan berkelanjutan. Karena itu percepatan harus dikawal bersama.”

[Iman Suhery, S.STP, MSP Kepala Pelaksana BPBD Aceh Tamiang].

PASCA bencana yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang, kebutuhan hunian sementara (HUNTARA) menjadi persoalan paling mendasar: tempat tinggal. Negara dituntut hadir cepat, tepat, dan transparan.

BACA JUGA...  SLBN Pembina Terima Bantuan Korban Terpaan Puting Beliung

Tercatat sebanyak 2.100 unit HUNTARA direncanakan dan dibangun melalui kolaborasi berbagai pihak. Namun di balik angka besar tersebut, terdapat dinamika progres, tantangan administratif, serta tuntutan percepatan yang kini disuarakan secara tegas oleh Bupati Aceh Tamiang, Irjen Pol (P) Drs. Armia Pahmi, MH.

MAYORITAS BERGERAK, SEBAGIAN MASIH TERTAHAN

DARI total 8.190 unit; 6.090 unit telah selesai, 2.100 unit lagi yang segera di bangun.

Unit yang telah selesai tersebar di Karang Baru, Bandar Pusaka, serta 12 kecamatan melalui skema in situ BNPB.