Menunggu Tangan Pusat Bersuara

Bencana Besar yang Mengubah Wajah Aceh Tamiang

ACEH TAMIANG bukan daerah yang asing dengan bencana.

Secara geografis, kabupaten yang berada di wilayah timur Provinsi Aceh ini memiliki sejumlah sungai besar yang bermuara ke Selat Malaka.

Saat curah hujan tinggi terjadi di daerah hulu, debit air meningkat dan mengalir ke kawasan hilir yang dihuni masyarakat.

BACA JUGA...  Warga Pesisir Lebih Butuh Tanggul Bukan Bansos

Pada 2025, intensitas hujan yang tinggi memicu banjir di sejumlah wilayah.

Ribuan rumah terdampak.

Lahan pertanian terendam.

Jalan-jalan penghubung rusak.

Fasilitas umum mengalami kerusakan.

Aktivitas ekonomi masyarakat terganggu selama berminggu-minggu.

Bagi sebagian warga, bencana bukan hanya soal kehilangan harta benda. Bencana berarti hilangnya sumber pendapatan keluarga, rusaknya kebun yang menjadi tulang punggung ekonomi, hingga ketidakpastian masa depan.

BACA JUGA...  MENJEMPUT LAPAR DI NEGERI YANG TENGGELAM

Karena itu, ketika pemerintah menjanjikan bantuan pemulihan, masyarakat menaruh harapan besar.

Harapan itulah yang kemudian berkembang menjadi tuntutan ketika bantuan belum kunjung diterima.

Kritik Mengarah ke Pemerintah Daerah

DALAM berbagai diskusi publik, media sosial, hingga percakapan sehari-hari, kritik kerap diarahkan kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang.

Sebagian masyarakat beranggapan bahwa pemerintah daerah memiliki kewenangan penuh untuk mencairkan bantuan.