Ketika Pengawas Menjadi Pelindung Mimpi Anak-Anak Gunung

Ketika Pengawas Menjadi Pelindung Mimpi Anak-Anak Gunung. [Foto Dok | mediaaceh.co.id | Adobe Photoshop].

“Menjadi pengawas sekolah bukan sekadar memantau laporan. Ini soal hati, soal memastikan anak-anak di pelosok tetap punya mimpi yang menyala.”

[Drs. Sepriyanto. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Tamiang]

  • Kisah Santi Novrida, Pengawas Sekolah yang Menjaga Api Pendidikan di Pegunungan

PAGI BELUM benar-benar menua ketika Santi Novrida mulai memutar kunci motornya. Kabut tipis menuruni perbukitan di wilayah Kejuruan Muda, Aceh Tamiang.

BACA JUGA...  Danramil 11/Brb Dampingi BKKBN Untuk Pelayanan KB

Jalan tanah yang berkelok di depannya masih basah sisa hujan semalam. Lumpur melekat di roda motor bebek yang sudah menua, tapi bagi Santi, itu bukan hal baru.

“Kalau hujan, saya harus dorong motor. Kadang harus titip di rumah warga, lanjut jalan kaki,” ujarnya, tersenyum kecil, menutupi lelah yang tampak di matanya.

BACA JUGA...  Dari Lumpur dan Arus Deras, Armia Pahmi Menata Kembali Aceh Tamiang

Santi adalah seorang pengawas sekolah jenjang Sekolah Menengah Pertama di Kabupaten Aceh Tamiang. Di pundaknya, ada sepuluh sekolah binaan, tersebar dari pesisir hingga pegunungan, dari SMP Negeri 1 Kejuruan Muda hingga SMP Semadam di ujung barat kabupaten.

Empat di antaranya terletak di daerah hulu [wilayah yang sulit dijangkau, jalannya curam, dan sering berlumpur].

BACA JUGA...  DI TENGAH SUNYI YANG LUMPUH, BUPATI TIDAK PERGI

“Tidak ada kendaraan umum yang lewat sana,” katanya. “Kalau hujan, lumpur bisa setinggi betis. Kalau kering, debu tebal menutup wajah.”

Namun, di balik kesulitan itu, ia selalu menyebut satu hal; “ini adalah panggilan jiwa,”.