Santi tak hanya dikenal gigih di lapangan. Tahun ini di bulan Agustus 2025, ia mengikuti Training of Trainer (ToT) selama 6 hari di Yogyakarta.
Satu pelatihan yang akan membekali para pengawas dengan keterampilan menyelesaikan masalah di sekolah secara sistematis dan empatik.
“Dari sana saya bisa belajar, pendidikan itu tidak bisa maju kalau hanya memperbaiki fisik sekolah,” katanya. “Yang harus dibenahi adalah mindset—pola pikir guru, siswa, dan orang tua.”
Ia kemudian mulai menerapkan pendekatan yang disebutnya “Olah Hati, Olah Rasa, Olah Pikiran”. Konsep ini berangkat dari keyakinan bahwa perubahan mental harus dimulai dari dalam; keikhlasan hati, kemurnian niat, dan kedisiplinan berpikir.
“Kalau hati dan pikirannya sehat, maka belajar pun jadi menyenangkan,” katanya.
Program itu ia tanamkan di tiap kunjungan ke sekolah binaan. Kadang ia mengajak guru-guru duduk lesehan di teras sekolah sambil berdiskusi soal metode belajar, kadang ia berbicara di mushala sekolah, menyentuh persoalan spiritualitas dan keimanan.
“Anak-anak yang belajar dengan hati, akan tumbuh dengan jiwa,” ujarnya pelan.
Mengubah Arah; Dari Ketertinggalan ke Keteladanan
Aceh Tamiang bukan daerah tanpa potensi. Di balik kesulitan geografisnya, tersimpan banyak semangat dan kearifan lokal yang menjadi kekuatan tersendiri.




