Ketika Pengawas Menjadi Pelindung Mimpi Anak-Anak Gunung

Ketika Pengawas Menjadi Pelindung Mimpi Anak-Anak Gunung. [Foto Dok | mediaaceh.co.id | Adobe Photoshop].

Santi percaya, jika pendidikan di hulu bisa diperkuat, maka Tamiang tak hanya bisa menyusul daerah lain, tapi juga menjadi contoh.

“Saya ingin sekolah-sekolah di sini bersaing secara digital,” katanya. “Kita harus berani melangkah ke era modern, tanpa meninggalkan akar budaya.”

Ia sadar, digitalisasi bukan perkara mudah. Di beberapa sekolah binaan, jaringan internet masih terputus-putus. Tapi Santi punya cara lain; ia meminta guru membuat inovasi berbasis lokal [seperti media ajar dari bahan alam sekitar, atau sistem belajar berbasis proyek yang menumbuhkan empati sosial siswa].

BACA JUGA...  Bunda PAUD Aceh Tamiang Raih Prestasi Nasional, Inovasi dari Karang Baru Menembus Jakarta

Dari tangan guru dan siswa SMP Darul Muhlisin, misalnya, lahir program kebun edukatif di pekarangan sekolah.

Sementara di SMP Negeri 5 Tamiang Hulu, siswa membuat video dokumenter tentang kehidupan petani di desa mereka.

“Pendidikan tidak boleh berhenti hanya karena sinyal hilang,” katanya sambil tertawa kecil.

Lelah yang Berbuah Cahaya

Menjadi pengawas sekolah di wilayah pegunungan bukan pekerjaan yang ringan. Tapi Santi tak pernah mengeluh.

BACA JUGA...  40 Peserta BLK Pidie Jaya Terima Sertifikat 

Di setiap perjalanan beratnya, selalu ada wajah-wajah anak yang menunggunya di sekolah, menyambut dengan senyum polos dan sapaan lembut, “Bu Santi datang, Bu…”

“Senyum itu jadi penghapus lelah,” katanya dengan mata berbinar.

Ia tak menolak disebut idealis. Tapi idealismenya bukan datang dari ruang ber-AC, melainkan dari tanah becek yang diinjaknya setiap pekan.