Di pundaknya, masih tergantung tas lusuh berisi berkas sekolah dan buku catatan kecil. Di halaman depannya tertulis dengan spidol biru: “Jalan ini berat, tapi anak-anak di ujung sana pantas diperjuangkan.”
Santi berhenti sejenak di tepi bukit, menatap ke bawah; hamparan sawah, sungai kecil, dan bangunan sekolah yang tampak mungil di kejauhan. Ia menarik napas panjang.
“Kadang saya berpikir, apakah semua ini akan berbuah?” katanya pelan. “Tapi setiap kali melihat anak-anak membaca dengan semangat, saya tahu… Tuhan sudah menjawabnya.”
Gempuran Modernisasi
Di tengah gempuran modernitas dan ketimpangan fasilitas, perjuangan seorang Santi Novrida mungkin tampak kecil.
Namun di antara lumpur, jalan curam, dan derasnya hujan di lereng Aceh Tamiang, ia menyalakan lentera yang tak pernah padam [lentera kesabaran, cinta, dan iman pada kekuatan pendidikan].
Karena pendidikan sejatinya bukan sekadar soal angka kelulusan, melainkan tentang menjaga cahaya kemanusiaan agar tetap hidup, bahkan di tempat yang paling sunyi sekalipun. [].




