Jalan Berlumpur Menuju Sekolah
Perjalanan Santi tak hanya menembus jalan berlumpur, tapi juga lapisan masalah sosial dan infrastruktur yang membelit pendidikan di daerahnya.
Di SMP Negeri 8 Kejuruan Muda, sekolah yang ia awasi di perbatasan Aceh dan Sumatera Utara, persoalan menjadi lebih pelik.
“Masalahnya bukan sekadar fasilitas,” katanya pelan. “Tapi juga soal tanah tempat sekolah itu berdiri.”
Tanah yang dahulu dihibahkan oleh warga untuk pembangunan sekolah kini menjadi sumber perselisihan.
Salah satu ahli waris keluarga pemberi hibah menganggap lahan itu seharusnya memberi “pemasukan” bagi keluarganya. Akibatnya, pembangunan sekolah sering terhenti, bahkan kegiatan belajar-mengajar pun sempat terganggu.
“Mereka menohok sedikit tak empati, tapi itu kerikil kecil yang harus saya angkat dengan rasa dan perasaan dan bukan menjadi sandungan” ujar Santi. “Padahal sebagian keluarga sudah ikut berdagang di kantin dan menjadi pengawas di sekolah itu.”
Situasi tersebut membuat Santi turun tangan. Ia melakukan pendekatan, menyelidiki duduk perkara dengan kepala sekolah, tokoh masyarakat, dan perangkat desa.
Semua ditemuinya satu per satu, dari rumah ke rumah, bukan sebagai pejabat, tapi sebagai sesama warga yang ingin mencari titik damai.




