Ketika Pengawas Menjadi Pelindung Mimpi Anak-Anak Gunung

Ketika Pengawas Menjadi Pelindung Mimpi Anak-Anak Gunung. [Foto Dok | mediaaceh.co.id | Adobe Photoshop].

Suara dari Dinas; Mencari Jalan Tengah

Ketika laporan itu sampai ke meja Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Tamiang, Drs. Sepriyanto, ia segera memerintahkan tim untuk melakukan investigasi lapangan.

“Masalah seperti ini tak boleh dibiarkan,” kata Sepriyanto saat ditemui usai rapat koordinasi. “Kalau kegiatan belajar terganggu, maka mutu pendidikan akan ikut menurun. Itu akan berimbas ke masa depan anak-anak di sana.”

Dalam forum musyawarah yang digelar di balai desa, hadir tokoh masyarakat, perangkat desa, pihak kecamatan, Babinsa, dan bahkan ahli waris keluarga pemberi tanah.

BACA JUGA...  Walikota Sabang Kukuhkan Paskibraka 2019

Suasana kaku, tapi perlahan mencair ketika satu per satu pihak mengungkapkan isi hatinya.

Santi duduk di sudut ruangan, memperhatikan dengan tenang. Ia tidak banyak bicara, hanya menatap, mendengar, lalu mencatat.

Hingga akhirnya, mufakat tercapai kata sepakat; tanah itu tetap menjadi milik sekolah, dan semua pihak sepakat menjaga keberlangsungan pendidikan di wilayah tersebut. “Alhamdulillah,” ucapnya lirih. “Ini kemenangan untuk anak-anak, bukan untuk siapa pun.”

“Menjadi pengawas sekolah bukan sekadar memantau laporan. Ini soal hati, soal memastikan anak-anak di pelosok tetap punya mimpi yang menyala.”

[Drs. Sepriyanto. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Tamiang].

Akan Belajar dari Jogja, Mengubah Mindset dari Hulu