Kapal PLTD Apung: Saksi Bisu Dahsyatnya Tsunami Aceh 2004

Sabtu, 4 Januari 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kapal PLTD Apung di Aceh/(instagram/@museum_pltd_apung).

Kapal PLTD Apung di Aceh/(instagram/@museum_pltd_apung).

BANDA ACEH (MA) — Tsunami yang melanda Aceh pada tanggal 26 Desember 2004 menjadi salah satu bencana alam terbesar dalam sejarah dunia.

Salah satu saksi bisu dari dahsyatnya bencana ini adalah Kapal PLTD Apung, sebuah kapal generator listrik yang terdampar sejauh lebih dari 3 kilometer dari pesisir pantai akibat gelombang tsunami.

BACA JUGA...  Museum Tsunami Raih Nominator Museum Populer

Kapal ini kini menjadi simbol perjuangan masyarakat Aceh dalam bangkit dari bencana, sekaligus destinasi wisata sejarah yang penuh makna.

Sejarah Kapal PLTD Apung

Sebelum tsunami terjadi, Kapal PLTD Apung ditempatkan di perairan Banda Aceh oleh PLN untuk mengatasi kekurangan listrik di wilayah tersebut.

Konflik yang melanda Aceh saat itu menyebabkan banyak menara transmisi listrik dirusak, sehingga suplai listrik menjadi sangat terbatas.

BACA JUGA...  Pesona Tersembunyi "Amazon" Aceh Jaya

Kapal ini mampu menyediakan listrik melalui jalur laut, menjadi solusi sementara yang vital bagi masyarakat Banda Aceh.

Namun, pada Minggu pagi, 26 Desember 2004, gelombang tsunami setinggi puluhan meter menghantam kapal ini dan membawanya hingga ke tengah perkampungan di Desa Punge Blang Cut, Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh. Peristiwa ini menjadi salah satu bukti nyata dahsyatnya kekuatan alam.

BACA JUGA...  Dari Rapa'i Dabus hingga Ceuraceu Embun, Delegasi Brazil Terpukau Pesona Aceh

Fungsi Kapal Setelah Tsunami

Setelah tsunami, pemerintah memutuskan untuk menjadikan Kapal PLTD Apung sebagai monumen peringatan tsunami.

Berita Terkait

23 Warisan Budaya Aceh di Tingkat Nasional, Kekayaan yang Tak Boleh Hilang
Seudati: Seni Gerak, Syair, dan Kekompakan yang Tak Lekang Zaman
Seni di Balik Kupiah Meukeutop, dari Busana Adat hingga Simbol Aceh
Pinto Aceh: Sebuah Motif, Sebuah Karya, Sebuah Identitas
Rencong: Ketika Sebilah Senjata Menjadi Karya Seni dan Identitas Aceh
Si Dalupa, Teater Bertopeng Aceh Barat yang Tetap Hidup di Tengah Zaman
Menjaga Gegedem Tetap Bertalu, Merawat Ingatan Budaya Tanah Gayo
Rapai Geurimpheng, Seni Tradisi Aceh yang Menyatukan Bunyi, Gerak dan Syair

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 22:17 WIB

23 Warisan Budaya Aceh di Tingkat Nasional, Kekayaan yang Tak Boleh Hilang

Minggu, 30 Agustus 2026 - 16:06 WIB

Seudati: Seni Gerak, Syair, dan Kekompakan yang Tak Lekang Zaman

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 23:01 WIB

Seni di Balik Kupiah Meukeutop, dari Busana Adat hingga Simbol Aceh

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 14:57 WIB

Pinto Aceh: Sebuah Motif, Sebuah Karya, Sebuah Identitas

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 00:53 WIB

Rencong: Ketika Sebilah Senjata Menjadi Karya Seni dan Identitas Aceh

Berita Terbaru

Cover: Ilustrasi Eksplorasi dan Eksploitasi Migas.

TAJUK

Migas; Mencari Cadangan, Menghadapi Risiko

Sabtu, 12 Sep 2026 - 22:12 WIB

FEATURE

Media dan Hulu Migas, Perkuat Pemahaman Energi

Sabtu, 12 Sep 2026 - 19:56 WIB

Anggota DPRK Asel Mistan Aulia (kanan) meninjau Irigasi Paya Dapur Kluet Timur bersama tim BPBD setempat, Jumat, (11/9/2026).(Poto/media eh.co.id/istimewa).

PEMERINTAHAN

Irigasi Tertutup Lumpur, 1.900 Hektare Sawah Terancam 

Sabtu, 12 Sep 2026 - 19:50 WIB

RAGAM BERITA

Bursa Ketum PWI Sumut 2026 Memanas

Sabtu, 12 Sep 2026 - 19:42 WIB

OPINI

Dari Ruang Curhat

Sabtu, 12 Sep 2026 - 09:38 WIB