Jejak Luka Kuala Peunaga; Dari Laut Menelan Rumah, ke Korupsi yang Menggerogoti Harapan

Minggu, 19 Oktober 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Jejak Luka Kuala Peunaga; Dari Laut Menelan Rumah, ke Korupsi yang Menggerogoti Harapan. [Foto Dok | mediaaceh.co.id | Digital Art].

Jejak Luka Kuala Peunaga; Dari Laut Menelan Rumah, ke Korupsi yang Menggerogoti Harapan. [Foto Dok | mediaaceh.co.id | Digital Art].

Dari 176 kepala keluarga, kini mereka berkembang menjadi 713 KK. Anak-anak kembali bersekolah, pasar kecil mulai ramai, dan di tepi jalan kampung terlihat papan bertuliskan; “Kuala Peunaga [Kampung Belacan Tuktuk].”

Penjabat Datok Penghulu (Kepala Desa) Sayed Anwar menatap warganya dengan bangga. “Dulu kami hidup dari laut, sekarang kami berdiri di atas tanah harapan,” katanya. “Tapi masih ada luka yang belum sembuh.”

Luka Itu Bernama Korupsi

Luka yang dimaksud Sayed bukan lagi dari laut, tapi dari sesama manusia.

BACA JUGA...  Jalan yang Berbelok dari Nurani

Beberapa tahun silam, ketika kampung baru ini sedang membangun diri, muncul kabar tak sedap: korupsi dana desa.

Lembaga Advokasi Hutan Lestari (LembAHtari) menemukan adanya penyimpangan besar yang dilakukan mantan Datok Muhammad Yusuf dan Sekdes Kamaruddin, [menjabat antara 2012–2018]. Dari hasil audit, keduanya diduga menilep dana Alokasi Dana Desa (ADD) sebesar Rp212.770.838.

Jumlah itu mungkin kecil di mata kota, tapi bagi Kuala Peunaga yang baru belajar berjalan, itu ibarat dirampok di siang bolong.

BACA JUGA...  ‘Meretas’ Keterisoliran ‘Baling Karang’ Bermodal Jembatan Gantung

Dana itu sejatinya digunakan untuk perbaikan infrastruktur, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan ekonomi warga. Namun, hasilnya lenyap tanpa jejak.

Direktur Eksekutif LembAHtari, Sayed Zainal M, SH, menyebut kasus ini sudah pernah dibahas dengan Inspektorat Aceh Tamiang.

“Dari total Rp212 juta, yang dikembalikan hanya Rp10 juta oleh Muhammad Yusuf dan Rp300 ribu oleh Kamaruddin,” ungkap Sayed. “Sisanya, sampai sekarang belum juga dikembalikan.”

Lebih memilukan, meski sudah ditemukan unsur penyimpangan, keduanya masih hidup bebas tanpa proses hukum.

BACA JUGA...  Negara Wajib Hadir; Jaga Kepastian Hukum di Krueng Woyla

“Ini bukan hanya korupsi uang, tapi korupsi rasa keadilan,” kata Sayed tegas. “Kami akan terus dorong agar kasus ini ditindaklanjuti.”

“Kami sudah kehilangan rumah dua kali karena laut. Tapi rasa kehilangan karena dikhianati orang sendiri, itu lebih sakit.”

[Samsuddin A, 62 tahun, warga Kuala Peunaga].

“Ini bukan hanya tentang uang desa. Ini tentang martabat sebuah kampung yang dibangun dari air mata.”

[Sayed Zainal M., SH, Direktur Eksekutif LembAHtari].

Ketika Kejahatan Dibiarkan

Berita Terkait

Rp101 Miliar Bertambah, APBK Aceh Tamiang Masuk Meja DPRK
Merawat Damai Dari Pidie Jaya
Media dan Hulu Migas, Perkuat Pemahaman Energi
MedcoEnergi, Produksi Naik, Proyek Terus Bergerak
Somasi Bang Agam, Minta DPRK Buka Persoalan Kepala Sekolah
Tiga Hari Yang Menguji Diri
Hardikda Ke-67, Armia Dorong Penguatan Mutu Pendidikan
Dari Bantuan Darurat ke Ekonomi Mandiri

Berita Terkait

Selasa, 22 September 2026 - 11:36 WIB

Rp101 Miliar Bertambah, APBK Aceh Tamiang Masuk Meja DPRK

Rabu, 16 September 2026 - 21:30 WIB

Merawat Damai Dari Pidie Jaya

Sabtu, 12 September 2026 - 19:56 WIB

Media dan Hulu Migas, Perkuat Pemahaman Energi

Rabu, 9 September 2026 - 18:16 WIB

MedcoEnergi, Produksi Naik, Proyek Terus Bergerak

Jumat, 4 September 2026 - 09:45 WIB

Somasi Bang Agam, Minta DPRK Buka Persoalan Kepala Sekolah

Berita Terbaru

Bupati Aceh Tengah Drs. Haili Yoga, M. Si.

PEMERINTAHAN

Haili Yoga: MPP Citra Pelayanan Daerah

Jumat, 23 Okt 2026 - 11:51 WIB

Panglima Kodam Iskandar Muda (Pangdam IM), Brigadir Jenderal TNI Mahesa Fitriadi.

EKBIS

Pangdam IM Dorong Pemberdayaan Ekonomi Desa

Jumat, 23 Okt 2026 - 08:08 WIB