Di atas kertas, dana Otonomi Khusus (Otsus) adalah anugerah bagi Aceh. Dana yang dimaksudkan untuk mempercepat pembangunan dan mengurangi kesenjangan. Tapi di banyak tempat, termasuk Alue Selebu, dana ini justru menimbulkan paradoks.
Sejak 2008, nilai total Otsus yang mengalir ke Aceh mencapai ratusan triliun rupiah. Namun masih banyak desa yang tertinggal, jalan rusak, sekolah reyot, dan kemiskinan yang menahun. Warga mulai bertanya: ke mana semua dana itu mengalir?
Bagi mereka, proyek pengaspalan ini hanyalah potret kecil dari masalah besar [ketimpangan tata kelola dan lemahnya pengawasan publik].
“Kadang, proyek jalan di Aceh seperti jalan di hutan belantara. Penuh liku, banyak simpang, dan tak jelas ujungnya,”.
Ketika Jalan Jadi Cermin
Jalan Alue Selebu bukan sekadar akses transportasi. Ia adalah cermin bagaimana sebuah sistem berjalan — apakah pemerintahan berpihak pada rakyat, atau justru menjauh dari nurani.
Setiap kali warga melangkah di atas tanah berdebu itu, mereka tak hanya menginjak jalan, tapi juga mengingat janji-janji yang tak ditepati. Setiap lubang di jalan seakan menjadi simbol dari lubang kepercayaan antara rakyat dan penguasa.
“Kalau pun nanti jalan ini benar-benar diaspal, kami akan tetap ingat prosesnya. Karena keadilan itu bukan Cuma hasil, tapi cara,” ucap Alfian.
Jalan Panjang Menuju Kepercayaan




