Tapi Fadlon menolak melihat media sebagai ancaman. Ia justru menjadikannya mitra kerja strategis.
Setiap kali ada rapat besar, ia memastikan jurnalis mendapat akses penuh. Ketika ada isu sensitif diangkat ke publik, ia memilih menjelaskan langsung ketimbang bersembunyi di balik pernyataan resmi.
Di ruang kerjanya yang sederhana, dengan dinding berisi foto tokoh-tokoh Aceh dan peta besar wilayah Tamiang, Fadlon sering menerima tamu dari kalangan media.
Tak jarang ia duduk santai tanpa protokoler, menyeruput kopi dan berbicara tentang hal-hal mendasar: kesejahteraan rakyat, pendidikan, dan pentingnya kejujuran dalam politik lokal.
Bagi wartawan muda di Tamiang, Fadlon menjadi contoh pejabat yang tak alergi dikritik. “Kritik itu vitamin, bukan racun,” ujarnya suatu kali sambil tersenyum.
Dari Aceh Tamiang untuk Indonesia
Fadlon sadar betul, Aceh Tamiang bukan Jakarta. Tapi justru dari daerah-daerah pinggiranlah semangat demokrasi bisa tumbuh jujur tanpa kepentingan besar.
Ia ingin menunjukkan bahwa politik lokal pun bisa beradab, dan bahwa kinerja lembaga legislatif tak akan berarti tanpa transparansi.
Dalam beberapa tahun terakhir, DPRK Aceh Tamiang di bawah kepemimpinannya mulai menerapkan sistem komunikasi publik berbasis media.




