Fadlon dan Cahaya Prerana dari Tamiang

Fadlon dan Cahaya Prerana dari Tamiang. [Foto Dok | mediaaceh.co.id | Digital Art].

Refleksi Sebuah Penghargaan

Prerana Award 2025 hanyalah satu titik di peta panjang perjalanan demokrasi Indonesia. Tapi titik itu penting, karena menandai bahwa masih ada pejabat daerah yang percaya pada kekuatan kata.

SPS sendiri menilai bahwa penghargaan kepada tokoh-tokoh seperti Fadlon adalah upaya untuk menghidupkan kembali semangat kebersamaan dalam keberagaman media.

BACA JUGA...  UU Narkotika Adalah UU Super Khusus, MA Wajib Menghukum Rehabilitasi Penyalah Guna

Bahwa di tengah perubahan zaman, ketika media sosial sering mengaburkan fakta, masih ada media arus utama dan pejabat publik yang berpegang pada prinsip etika, transparansi, dan kolaborasi.

Aceh Tamiang kini dikenal sebagai daerah yang punya kultur komunikasi publik yang sehat. Mungkin tak sesempurna kota besar, tapi cukup untuk menjadi contoh bagaimana sinergi pers dan politik bisa melahirkan tata pemerintahan yang manusiawi.

BACA JUGA...  Tiga Ambulans Harapan untuk Aceh Tamiang

Di Antara Kata dan Cahaya

Malam di Banda Aceh perlahan menutup tirai. Para tamu beranjak dari kursi mereka, membawa pulang cerita, inspirasi, dan secuil harapan.

Namun bagi Aceh Tamiang, malam itu meninggalkan lebih dari sekadar kenangan [ia meninggalkan pesan moral bahwa keterbukaan adalah bentuk tertinggi dari pengabdian].

Di bawah langit Aceh, di antara deru ombak sejarah dan hembusan angin demokrasi, Prerana Award menjadi cahaya kecil yang menyinari jalan panjang hubungan antara kekuasaan dan kebenaran.