Di Balik Panggung, ada Keteladanan yang Tumbuh
Ketika namanya diumumkan, tepuk tangan bergema panjang. Tapi di balik seremoni itu, ada perjalanan panjang tentang kejujuran, komunikasi, dan tanggung jawab. Sejak memimpin DPRK Aceh Tamiang, Fadlon menaruh perhatian besar pada keterbukaan informasi publik.
Bagi dia, media bukan sekadar alat publikasi, melainkan penyambung nurani masyarakat. Ia sering mengulang satu kalimat sederhana kepada wartawan yang datang ke kantornya; “Kita ini bekerja bukan untuk menutupi, tapi menjelaskan.”
Kalimat itu mungkin terdengar ringan, tapi di baliknya ada makna besar tentang relasi kekuasaan yang sehat. Di banyak daerah, hubungan antara legislatif dan pers sering berjalan di atas kecurigaan.
Wartawan dianggap mencari kesalahan; pejabat dianggap menutupi kebenaran. Namun di Aceh Tamiang, Fadlon membuktikan bahwa relasi itu bisa ditata ulang [menjadi kemitraan yang saling menguatkan].
“Kalau wartawan tidak bisa masuk kantor dewan, itu tandanya demokrasi kita sedang sakit,” ujarnya suatu kali dalam sebuah diskusi media.
Keterbukaan itu berbuah kepercayaan. Banyak isu publik yang tadinya buntu di ruang DPRK kini mengalir ke media dan kembali mendapat tanggapan dari warga.




