Oleh: Tgk. Muhsin
Di banyak ruang kekuasaan, suara politik terdengar nyaring: debat, pernyataan, dan saling klaim kebenaran.
Namun di luar ruangan atau meja debat itu, rakyat sering menjumpai kesunyian. Tanpa suara, tapi benar-benar sunyi dari kehadiran, sunyi dari empati, dan sunyi dari keadilan yang nyata.
Al-Qur’an mengingatkan agar kekuasaan tidak berubah menjadi kegaduhan yang melupakan tujuan:
وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ
“Janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi lemah dan hilang kekuatanmu.”
(QS. Al-Anfāl 8: 46).
Riuh yang lahir dari ego hanya menguras energi kolektif. Sementara rakyat membutuhkan ketenangan keputusan kebijakan yang bekerja, bukan sekadar wacana yang bergema.
Nabi Muhammad SAW mengajarkan bahwa inti kepemimpinan adalah kelembutan yang berbuah manfaat:
مَا كَانَ الرِّفْقُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ
“Tidaklah kelembutan ada pada sesuatu melainkan ia menghiasinya.”
(HR. Muslim).
Dalam pandangan tasawuf, kekuasaan adalah ujian keikhlasan. Semakin tinggi posisi, semakin halus tuntutan adabnya.
Politik yang teduh lahir dari hati yang jernih; sebaliknya, hati yang dipenuhi ambisi melahirkan kebijakan yang bising dan hampa.




