Bagi SPS, memilih Aceh sebagai tuan rumah bukan kebetulan. Serambi Mekah ini adalah simbol sejarah peradaban dan perjuangan. Dari tanah ini dulu lahir suara-suara kebenaran yang menembus batas kolonialisme.
Kini, SPS ingin mengembalikan semangat itu [menjadikan Aceh sebagai titik cahaya kebangkitan pers nasional].
Dan di antara para penerima penghargaan tahun ini, Fadlon hadir sebagai wakil dari Aceh Tamiang, membawa pesan moral bahwa demokrasi lokal bisa bersinar ketika pejabat mau membuka diri terhadap media.
“Kebebasan pers bukan ancaman bagi pemerintah, tapi napas bagi demokrasi. Tanpa pers yang hidup, keadilan hanya jadi gema yang tak sampai ke telinga rakyat.”
[Fadlon, SH. Ketua DPRK Aceh Tamiang, Penerima Prerana Award 2025].
Antara Apresiasi dan Amanah
Ketika menerima penghargaan, Fadlon tak banyak bicara. Ia hanya menunduk sedikit, menerima trofi kaca berukir logo SPS, lalu berkata pelan di depan mikrofon:
“Penghargaan ini bukan untuk saya pribadi. Ini untuk semua rekan wartawan dan masyarakat Aceh Tamiang yang percaya bahwa kebenaran harus disampaikan.”
Ucapannya menembus suasana malam yang penuh haru. Para tamu undangan bertepuk tangan lama. Di antara mereka, terlihat wajah-wajah muda dari media lokal [beberapa bahkan meneteskan air mata bangga].




