Fadlon, dengan langkah tenangnya, telah menunjukkan bahwa menjadi pemimpin bukan soal siapa yang paling keras bicara, tapi siapa yang paling tulus mendengar.
Dan ketika pers diberi ruang, ketika wartawan tidak dibungkam, ketika pejabat mau berbagi cahaya [maka di situlah demokrasi menemukan maknanya yang sejati].
Aceh Tamiang boleh kecil di peta, tapi malam itu, dari Serambi Mekah, ia mengirimkan cahaya yang jauh [Cahaya dari Prerana]. [].




