[Sambungan]
“Yang hilang bukan hanya bangunan, tapi kontur tanah, jalur sungai, dan cadangan air bersih. Itu tidak bisa dihitung dengan kalkulator.”
DI DESA Tenggulun, Karang Baru, Sekerak, dan terutama di Sekumur [yang telah hilang dari peta] warga mulai kembali menyusuri lokasi rumah mereka.
Di tanah yang sudah berubah menjadi lapisan lumpur setinggi mata kaki, seorang lelaki paruh baya berdiri terpaku sambil membawa meteran kecil.
“Ini kira-kira lokasi ruang tamu… Sebelah sini dapur… Itu tempat kami biasa duduk ngeteh…,” katanya pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada siapa pun.
Anaknya yang masih berusia delapan tahun bertanya lirih; “Ayah… kalau rumah hilang… alamat kita hilang juga?”
Pertanyaan itu menghentikan napas siapa pun yang mendengarnya.
Sementara itu, di desa lain yang masih selamat secara fisik, luka psikis jauh lebih sulit terlihat. Anak-anak kecil terdiam saat mendengar hujan rintik.
Banyak lansia sering terbangun di malam hari, merasa seolah air kembali naik ke kaki mereka. Para ibu memeriksa pintu dan jendela berkali-kali seakan banjir bisa masuk dari celah apa pun.
Seorang relawan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), berkata; “Luka paling sulit sembuh bukan di rumah mereka… tapi di kepala mereka.”



