Fadlon menambahkan dengan nada lembut, “Semoga penghargaan ini menjadi cermin kecil bahwa kerja jurnalis adalah kerja kemanusiaan. Karena di setiap berita, ada denyut nurani bangsa.”
Dan malam itu, Banda Aceh menjadi saksi, bahwa di balik tinta yang kadang mengering oleh tekanan, selalu ada tangan-tangan yang menjaga agar kata tetap hidup.
“Pers bukan sekadar perekam, melainkan pengingat nurani. Ketika kami melangkah dalam kebijakan, wartawan-lah yang menyalakan lampu jalan agar langkah itu tetap menuju kebaikan.”
[Irjen Pol (P) Drs. Armia Pahmi, MH. Diwakilkan oleh Ismail, SE.I, Wakil Bupati Aceh Tamiang].
“Tidak ada demokrasi tanpa keberanian wartawan menulis, dan tidak ada keadilan tanpa kesediaan pejabat untuk dikritik.”
[Fadlon, SH, Ketua DPRK Aceh Tamiang].
Di usia ke-79 tahun Serikat Perusahaan Pers, penghargaan yang diberikan kepada Aceh Tamiang bukan hanya soal nama dan seremoni.
Ia adalah cermin; bahwa di tengah krisis media, masih ada ruang kecil yang memelihara kehangatan antara kata, kekuasaan, dan nurani.
Karena pada akhirnya, bukan kekuasaan yang akan dikenang sejarah, melainkan kebaikan yang disampaikan lewat berita. [].




