Dua anugerah ini bukan sekadar simbol. Ia adalah pengakuan moral, bahwa di tengah turbulensi sosial dan tekanan ekonomi media, masih ada pejabat publik yang memandang pers bukan musuh, melainkan mitra dialog.
Suara yang Diwakilkan, Pesan dari Sang Bupati Purnawirawan
Ketika nama Irjen Pol (P) Drs. Armia Pahmi, MH disebut, seisi ruangan berdiri memberi hormat.
Beliau tidak hadir secara langsung dan mewakilkan penerimaan penghargaan kepada Ismail, SE.I, Wakil Bupati Aceh Tamiang.
Namun pesan yang dibawakan Ismail terasa begitu personal, seperti diucapkan dari hati seorang pemimpin yang menaruh hormat pada profesi wartawan.
“Dalam pandangan kami, pers bukan sekadar perekam, melainkan pengingat nurani. Ketika kami melangkah dalam kebijakan, wartawan-lah yang menyalakan lampu jalan agar langkah itu tetap menuju kebaikan,” ujar Ismail membacakan pesan tertulis Irjen Pol (P) Armia Pahmi.
Suasana ruangan hening sejenak.
Bagi banyak insan pers di Aceh, kalimat itu seperti oase. Karena tidak sedikit pemimpin daerah yang justru menjauh dari wartawan, menutup pintu wawancara, atau memandang kritik sebagai ancaman.
Armia Pahmi berbeda. Selama menjabat Bupati Aceh Tamiang, ia dikenal membangun komunikasi tanpa sekat.




