Kalimat itu mengalir seperti doa
Bagi jurnalis yang hadir hari itu, rasanya seperti menemukan ruang teduh di tengah cuaca media yang makin gaduh.
Dari Banda Aceh ke Tamiang, Arus yang Tak Boleh Putus
Penghargaan SPS mungkin hanya simbol. Tapi simbol itu penting, karena ia menandai arah moral sebuah perjalanan.
Aceh Tamiang, daerah kecil di ujung timur Aceh, kini menorehkan jejak dalam sejarah pers nasional. Dari daerah ini muncul dua nama yang menegaskan makna keberpihakan pada media.
Seorang bupati purnawirawan yang memahami arti komunikasi, dan seorang ketua DPRK yang memaknai kritik sebagai cahaya demokrasi. Seperti ditulis dalam prasasti penghargaan SPS tahun ini.
“Bagi pemimpin yang membuka ruang, dan bagi legislator yang mendengar suara. Karena dari telinga yang terbuka, lahir kebijakan yang berkeadilan.”
Menulis dengan Nurani
Malam menutup acara dengan kesunyian yang hangat. Di luar gedung, gemerincing hujan ringan jatuh di jalanan Banda Aceh.
Beberapa jurnalis lokal menatap ke langit, menyalakan rokok, dan bercanda kecil.
Namun di balik tawa itu, terselip rasa haru [bahwa profesi yang mereka jalani ternyata masih dihargai].
Sementara di meja tamu kehormatan, Ismail sempat berkata pelan kepada panitia; “Anugerah ini bukan untuk saya, bukan untuk Pak Armia Pahmi semata. Tapi untuk semua jurnalis Aceh Tamiang yang tetap menulis meski kadang tanpa imbalan, tanpa tepuk tangan.”




