Anugerah di Serambi Pers; Saat Aceh Tamiang Menggaungkan Etika dan Kebersamaan Media

Anugerah di Serambi Pers; Saat Aceh Tamiang Menggaungkan Etika dan Kebersamaan Media. [Foto Dok | mediaaceh.co.id | Digital Art].

Tidak jarang ia menyapa wartawan di lapangan, berdialog terbuka, bahkan memfasilitasi diskusi kecil tentang transparansi pembangunan daerah.

“Saya percaya, kepercayaan publik kepada pemerintah hanya bisa tumbuh bila media diberi ruang untuk bekerja jujur dan tanpa intimidasi,” pesan beliau dalam surat penghargaan itu.

Kalimat yang sederhana, tapi terasa berat bobotnya di tengah krisis kepercayaan publik terhadap pejabat publik di berbagai daerah.

BACA JUGA...  Sedikit Kegembiraan di Tengah Kecemasan

Legislator dan Nurani; Fadlon di Tengah Panggung

Berbeda dengan suasana formal saat penghargaan pertama, ketika nama Fadlon, SH disebut untuk menerima PRERANA AWARDS 2025, senyum para hadirin terasa lebih cair.

Fadlon dikenal di Aceh Tamiang sebagai figur low profile namun progresif. Di bawah kepemimpinannya, DPRK Aceh Tamiang membuka kanal komunikasi publik dengan media.

BACA JUGA...  Menyemai Masa Depan di Ruang Kelas; Jalan Panjang Meningkatkan Mutu Pendidikan

Mendorong sidang-sidang terbuka untuk diliput, dan menginisiasi kolaborasi literasi antara parlemen dan jurnalis lokal.

Dalam sambutannya, Fadlon tidak berbicara dengan bahasa politik. Ia justru memilih kalimat yang menyentuh sisi manusiawi relasi antara kekuasaan dan media.

“Saya percaya, tidak ada demokrasi yang tumbuh tanpa keberanian wartawan menulis, dan tidak ada keadilan yang tegak tanpa kesediaan pejabat untuk dikritik.”

Tepuk tangan kembali menggema. Beberapa wartawan muda terlihat menunduk, seolah kata-kata itu mengetuk ruang sunyi dalam diri mereka; tentang makna profesi yang kadang terabaikan oleh tekanan ekonomi dan kepentingan.