79 Tahun SPS, Di Persimpangan Sejarah
Rangkaian HUT ke-79 SPS di Banda Aceh dan Sabang kali ini tak sekadar seremoni. Ia adalah rappel moral, sebuah penegasan bahwa media arus utama tidak boleh kehilangan roh perjuangannya.
SPS kini bukan lagi sekadar organisasi penerbit surat kabar. Ia telah menjelma menjadi asosiasi perusahaan pers lintas platform yang berkomitmen menjaga kedaulatan informasi nasional.
Dengan 569 anggota, SPS berupaya menjadi clearing house [rumah bersih bagi jurnalisme yang bertanggung jawab di tengah banjir konten digital].
Aceh menjadi pilihan simbolik, di sinilah dulu Warta Berita dan Atjeh Post menjadi saksi sejarah perjuangan, di sinilah pula syair-syair pers perlawanan ditulis di balik dinding masjid dan pesantren.
Kini, generasi muda jurnalis Aceh berdiri di panggung yang sama dengan para senior SPS, mengingat kembali akar profesi yang luhur; melawan lupa dan menolak tunduk pada kekuasaan yang buta nurani.
Refleksi dari Seberang Meja
Setelah sesi foto bersama, para penerima penghargaan berkumpul di ruang kecil di belakang panggung. Tak ada gemerlap, tak ada protokol kaku. Hanya percakapan ringan antara pejabat, wartawan, dan panitia SPS.
Di sana, Ismail duduk berdampingan dengan Fadlon dan beberapa jurnalis muda. Ia menatap mereka dengan nada ayah yang tenang.
“Saya ingin kalian tahu,” katanya pelan, “setiap berita yang kalian tulis bisa menolong satu kebijakan menjadi lebih jujur. Jangan pernah takut menulis kebenaran, tapi tulislah dengan hati.”
Fadlon menimpali dengan senyum kecil, “Dan kami di DPRK berjanji untuk membaca dengan hati pula.”




