“Jangan tunggu wartawan mati baru negara bersuara. Jangan tunggu anak-anak ini kehilangan masa depannya baru birokrasi bertindak.”
[Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, SH., MH].
- Ketika Wartawan Dipukul, Negara Menunduk
MALAM ITU, udara di Kampung Kuyun Uken, Kecamatan Celala, Aceh Tengah, menusuk hingga tulang. Di rumah kayu sederhana di lereng bukit, suara jangkrik tiba-tiba berhenti.
Suara benda tumpul menghantam tubuh manusia pecah bersama jerit kecil [suara empat anak yang ketakutan].
Di bawah cahaya lampu minyak yang redup, seorang wartawan lokal tersungkur. Ia dipukul oleh lelaki yang mestinya melindungi warga: Reje Kampung (kepala desa) berinisial A.
Di antara kursi yang terbalik dan kaca pecah, empat anak menjadi saksi bisu [melihat ayah mereka diperlakukan seperti penjahat di rumah sendiri].
“Anak-anak menangis, saya tidak bisa berbuat banyak,” kata istrinya lirih, seperti mengulang luka yang belum kering. Sejak malam itu, rumah di Kuyun Uken tak lagi terasa seperti rumah.
Empat Anak, Empat Luka yang Tak Terlihat
Di dalam rumah yang kini lebih banyak diam, empat anak itu hidup dengan ketakutan yang menempel di mata.
Muhamad Alfarezi, bocah 3,5 tahun, sering terbangun tengah malam memanggil ayahnya. Ahmad Yuda, 7 tahun, menolak tidur sendiri.




