Anak-Anak yang Menyaksikan Kekerasan

Anak-Anak yang Menyaksikan Kekerasan. [Foto Dok. | mediaaceh.co.id | Digital Art].

“Jangan tunggu wartawan mati baru negara bersuara. Jangan tunggu anak-anak ini kehilangan masa depannya baru birokrasi bertindak.”

[Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, SH., MH].

  • Ketika Wartawan Dipukul, Negara Menunduk

MALAM ITU, udara di Kampung Kuyun Uken, Kecamatan Celala, Aceh Tengah, menusuk hingga tulang. Di rumah kayu sederhana di lereng bukit, suara jangkrik tiba-tiba berhenti.

BACA JUGA...  Tim Paslon 02 Bantah Tudingan Provokasi dan Kekerasan dalam Kericuhan Pemilihan BEM Unimal

Suara benda tumpul menghantam tubuh manusia pecah bersama jerit kecil [suara empat anak yang ketakutan].

Di bawah cahaya lampu minyak yang redup, seorang wartawan lokal tersungkur. Ia dipukul oleh lelaki yang mestinya melindungi warga: Reje Kampung (kepala desa) berinisial A.

Di antara kursi yang terbalik dan kaca pecah, empat anak menjadi saksi bisu [melihat ayah mereka diperlakukan seperti penjahat di rumah sendiri].

BACA JUGA...  Komisi III DPRK Aceh Tamiang Soroti Kinerja Dinkes

“Anak-anak menangis, saya tidak bisa berbuat banyak,” kata istrinya lirih, seperti mengulang luka yang belum kering. Sejak malam itu, rumah di Kuyun Uken tak lagi terasa seperti rumah.

Empat Anak, Empat Luka yang Tak Terlihat

Di dalam rumah yang kini lebih banyak diam, empat anak itu hidup dengan ketakutan yang menempel di mata.

BACA JUGA...  Wakil Ketua KPK: Anak-Anak Adalah Agen Pelopor Kejujuran

Muhamad Alfarezi, bocah 3,5 tahun, sering terbangun tengah malam memanggil ayahnya. Ahmad Yuda, 7 tahun, menolak tidur sendiri.