Anak-Anak yang Menyaksikan Kekerasan

Anak-Anak yang Menyaksikan Kekerasan. [Foto Dok. | mediaaceh.co.id | Digital Art].

Dalam sistem hukum yang ideal, kekerasan terhadap jurnalis akan langsung ditangani dengan prioritas.

Tapi di banyak daerah, terutama di wilayah terpencil, proses hukum sering kali terikat oleh relasi sosial; pelaku yang berpengaruh, korban yang tidak punya daya, dan aparat yang takut menciptakan konflik baru.

“Ketika hukum tunduk pada tekanan sosial, maka keadilan kehilangan maknanya,” kata Prof. Sutan.

Ia menambahkan, kebebasan pers bukan hanya soal berita, tapi soal hak publik atas kebenaran.

BACA JUGA...  Presiden LSM LIRA Laporkan Mafia Tanah HGU PTPN II Kebun Sei Semayang

“Kalau wartawan takut, maka rakyat akan hidup dalam gelap.”

Malam yang Tak Pernah Usai

Di Kuyun Uken, empat anak itu masih tidur berdekatan. Lampu minyak di kamar mereka menyala sepanjang malam.

Kadang, angin membawa kembali suara keras yang mereka dengar malam itu. Sang ibu menenangkan dengan doa. Tapi di mata anak-anak itu, doa belum cukup untuk menghapus takut.

BACA JUGA...  Pangdam IM Olah Raga Bersama TNI/Polri di Polda Aceh

Di Subulussalam, Syahbudin masih menulis. Ia tahu, tulisannya mungkin membuat orang tak senang.

Namun ia tetap mengetik di ruang tamu dengan jendela yang kini berlapis kawat besi.

“Kalau saya berhenti, berarti mereka menang,” katanya pelan.

“Jangan tunggu wartawan mati baru negara bersuara. Jangan tunggu anak-anak ini kehilangan masa depannya baru birokrasi bertindak.”

[Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, SH., MH].

Di Bawah Langit yang Diam