Diandra Alfirian, 11 tahun, berhenti bermain dengan teman sebayanya.
Dan Suci Anastasya Futri, 14 tahun, kini lebih sering menatap kosong ke jendela.
Mereka menjadi saksi dari sesuatu yang bahkan orang dewasa sulit menghadapinya: kekuasaan kecil yang menjadi alat teror.
Psikolog anak menyebut trauma semacam ini bisa meninggalkan jejak panjang. Anak-anak bisa tumbuh dengan rasa tidak percaya pada dunia, takut pada otoritas, dan kehilangan konsep aman bahkan di tempat tinggalnya sendiri.
Tapi hingga dua minggu setelah kejadian, belum ada pendampingan dari pemerintah daerah. Tak ada tim psikolog yang datang, tak ada DP3A yang mengetuk pintu.
“Yang datang hanya wartawan lain, menanyakan kabar ayah mereka,” kata sang ibu. “Yang lain diam.”
Serangan yang Kedua; Bayangan Batu di Subulussalam
Kamis dini hari, 17 Oktober 2025. Di Subulussalam, ratusan kilometer dari Aceh Tengah, Syahbudin Padank, wartawan yang juga Wakil Ketua DPW FRN Counter Polri Aceh, terbangun oleh suara dentuman keras di luar rumahnya.
Dua pria tak dikenal melempari mobilnya dengan batu. Kaca belakang pecah, alarm meraung, istri menjerit, dan anak-anak menangis ketakutan.
“Saya tidak tahu siapa. Mereka datang seperti bayangan,” katanya pelan. Keesokan paginya, ia masih menemukan serpihan kaca di halaman.
Bagi Syahbudin, ini bukan sekadar ancaman. Ini pesan. Pesan bahwa di negeri ini, menulis kebenaran bisa berujung pada ketakutan.




