MEDAN | MA — Setiap langkah warga Aceh di jalanan Medan kini terasa berat. Terik matahari bukan satu-satunya beban yang harus ditanggung, tetapi juga rasa takut yang terus membayangi. Dari jalan raya hingga pasar, dari gang sempit hingga masjid, ancaman bisa muncul kapan saja. Pungutan liar, pemerasan berkedok razia surat kendaraan, perampokan, hingga kekerasan fisik telah menjadi kenyataan pahit yang menghantui mereka setiap hari.
Ali, seorang pedagang asal Bireuen yang rutin melintas ke Medan untuk membeli barang dagangan, menceritakan pengalaman getirnya. “Kalau plat BL dari jauh sudah dicari-cari salah. Yang dirazia biasanya langsung gugup, dan kadang ada yang sampai dijebak narkoba,” katanya lirih. Bagi Ali, pelat nomor kendaraan bukan sekadar identitas, tetapi juga bentuk perlindungan. Pelat BK milik warga Sumatera Utara dianggap lebih aman, meski tetap bukan jaminan keselamatan di jalanan.
Tarmizi, warga Aceh Utara yang menjadi saksi mata perampokan terhadap pedagang asal kampungnya, menuturkan kisah yang menyesakkan dada. “Ada pedagang datang ke Medan belanja bahan pokok. Saat ia memikul barang di pundak, tiba-tiba perampok datang menggeledah kantong dan tasnya. Untung uangnya sudah habis dibelanjakan. Bayangkan, tangan yang mencari rezeki malah jadi sasaran kekerasan,” ujarnya penuh keprihatinan.




